Pembangunan Santri Untuk ERA Revolusi Industri 4.0 - Robotic Indonesia.com

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

Saturday, March 23, 2019

Pembangunan Santri Untuk ERA Revolusi Industri 4.0

www.roboticindo.com

Robotic IndonesiaIndonesia tengah menyongsong revolusi industri 4.0. Para pengusaha bahkan turun gunung untuk mengajak generasi muda menyiapkan sumber kekuatan manusia (SDM) yang mumpuni dalam menghadapi industri 4.0, termasuk ke pesantren-pesantren.

Seperti yang dijalankan Wakil Ketua Umum (Waketum) Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Arsjad Rasjid yang berprofesi sama dengan Pondok Buntet Pesantren. Arsjad mengatakan seharusnya ada sinergitas antara ponpes dengan para pengusaha untuk membangun ekonomi umat.

"Kita memperhatikan ke depan peran pesantren untuk membangun entrepreneur. Sebab bukan cuma untuk belajar agama, melainkan bagaimana juga (pesantren) dapat memberdayakan masyarakat ke depannya," sebut Arsjad berakhir berkunjung ke Pimpinan Yayasan Institusi Pengajaran Islam (YLPI) Buntet Pesantren KH Adib Rofiuddin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Jumat (22/3/2019).

Lebih lanjut, Arsjad menerangkan perihal peran pesantren semenjak Indonesia belum merdeka. "Pengajaran telah ada semenjak dahulu di pesantren. Jadi, sepatutnya didukung juga ke arah pemberdayaan ekonomi," sebutnya.

Arsjad menerangkan pemerintah dan swasta semestinya bersinergi menyiapkan generasi muda, termasuk santri untuk berkompetisi dalam revolusi industri 4.0 ini. Arjad mengaku tidak cuma di Buntet, kerjasama akan dilaksanakan dengan ponpes yang ada di Indonesia.

"Jadi bukan Buntetnya. Melainkan SDM yang kita lihat. Banyak santri dari Buntet yang tersebar di sebagian tempat, jadi nanti tidak cuma mengajari agama saja namun kewirausahaan juga. Kita senantiasa menjajaki tiap pesantren, untuk membangun generasi muda," sebutnya.

Arsjad tidak menampik generasi muda Indonesia masih belum sepenuhnya siap menyongsong industri 4.0. Tapi, lanjut Arsjad, tidak sedikit juga yang belajar secara otodidak lewat pemanfaatan teknologi dunia online.

"Untuk menghadapi 4.0 itu utamanya SDM, karenanya pentingnya pengajaran dan kerjasama seperti ini. Memang ketika ini SDM di Indonesia itu ada yang siap, ada yang belum," kata Presiden Direktur PT Indika Energy itu.

Lanjut lagi, berdasarkan Arsjad salah SDM adalah pondasi yang sepatutnya disiapkan. Ketika ini, pemerintah sudah membangun infrastruktur secara besar-besaran. Sehingga, penguatan SDM perlu dilaksanakan.


"Hard infrastruktur kan telah dibangun. Pondasinya itu soft infrastruktur, seperti berbudi pekerti, saling menghargai satu sama lainnya, dan lainnya itu penting. Kita wajib bersama-sama, gotong royong untuk membangun ini," kata Arsjad.

Arsjad tidak sendirian berkunjung ke Buntet. Arsjad didampingi Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea. Hal senada dipersembahkan Andi Gani ketika disinggung mengenai kerjasama dengan pesantren Buntet.

"Intinya kami silahturahmi dan mensupport Buntet untuk memaksimalkan UMKM atau ekonominya. Buntet mempunyai potensi luar umum, ada multimedianya. Kita dapat kerjasama dibidang itu, kita punya grup juga yang menggeluti bidang hal yang demikian," sebut Gani.

Ancaman PHK Era Industri 4.0

Kecuali menyiapkan generasi muda yang berkompeten untuk menyongsong revolusi industri 4.0, KSPSI juga tengah konsentrasi menggembleng buruh supaya kapabel dan menyesuaikan diri| di revolusi industri 4.0. Andi Gani tidak menampik pemutusan relasi kerja (PHK) tengah mengancam para buruh.

Industri 4.0, dikatakan Andi Gani tidak menutup kemungkinan membuka pintu bagi robot dan mesin untuk berasing dengan buruh. Kecuali meningkatkan kompetensi buruh, KSPSI juga mendukung supaya pemerintah menerbitkan aturan yang ketat berkaitan pengaplikasian mesin dan robot dalam dunia industri.

"Pemerintah sepatutnya mempunyai peraturan yang ketat supaya buruh konsisten mempunyai kesempatan kerja. Peraturan ini yang menyeleksi mesin atau robot mana yang diperkenankan, mana yang tak diperkenankan," kata Andi Gani.


Andi mengatakan tsunami PHK pernah terjadi di Eropa. Sebab mesin atau robot sanggup menggantikan kerja buruh. "Apabila tak seperti itu (ada peraturan), karenanya gelombang PHK dapat terjadi seperti di Eropa. Ada pabrik yang sebelumnya mempekerjakan 10.000 buruh, hingga alhasil dirombak jadi 100 buruh. Sebab tergantikan mesin," katanya.

Lebih lanjut, menurutnya ancaman PHK telah terjadi semenjak dua tahun lalu. Andi menceritakan keadaan hal tersebut menimpa salah satu pabrik tekstil.

"(Ancaman PHK) dua tahun lalu, kemudian aku minta terhadap presiden untuk mengeluarkan peraturan, terutama untuk pabrik tekstil. Memang jumlahnya tidak signifikan, " katanya.

Kecuali industri tekstil, lanjut ia, ancaman PHK juga menyerang industri manufaktur. dapat diganti oleh mesin. Jangan hingga buruh menjadi korban, makanya perlu peraturan atau perundang-undangan dan peningkatan SDM," sebutnya.

Ketika disinggung mengenai kesiapan buruh menghadapi revolusi industri, Andi Gani mengaku buruh di Indonesia belum 100 persen siap menghadapi revolusi industri 4.0.

"Kini belum siap, belum siap mendapatkan utuh 4.0. Kita masih berkompetisi dengan negara lain, seperti Vietnam dan Myanmar," sebutnya.

Terpisah Pimpinan YLPI Buntet Pesantren Cirebon KHAdib Rofiuddin mengatakan menyiapkan santri untuk lebih merajai teknologi. Sejauh ini para santri Buntet Cirebon telah memperoleh pengajaran berbasis teknologi.

"Kita telah ada program keterampilan untuk santri. Kita kerjasama mengoptimalkan potensi yang ada. Ada yang tak dapat dimaksimalkan, seperti peternakan dan perikanan sebab kami terkendala lahan prakteknya. Kami juga ada sekolah multimedia, STIT dan Akper juga ada. Nanti dapat diberi arahan ke situ bersama Kadin," sebutnya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad