Perkembangan Artificial Intelligence Di Indonesia - Robotic Indonesia.com

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

Tuesday, March 19, 2019

Perkembangan Artificial Intelligence Di Indonesia

Perkembangan AI Teknologi Indonesia


contoh artificial intelligent - www.roboticindo.com

Robotic Indonesia - Sebuah pentas di Mountain View, California, Amerika Serikat (AS) pada Mei lalu meriah oleh suara decak terpukau. Di sana berdiri Chief Executive Officer (CEO) Google Sundar Pichai yang nampak bergairah, mempersembahkan layanan Artificial Intelligence (AI) baru dari perusahaannya yang mengagumkan hadirin.

Apa yang Pichai tampilkan dalam layar besar di atas pentas merupakan percakapan singkat antara seorang dua orang wanita, satu yakni pegawai salon, yang lainnya ialah pelanggan yang berkeinginan melakukan pengorderan slot waktu layanan secara khusus dahulu.

Sepintas tidak ada yang aneh, percakapan selama sekitar 55 detik itu terlihat alami, seolah-olah itu percakapan sehari-hari yang umum terjadi antara pelanggan dan pegawai salon hal yang demikian. Cuma saja, yang terjadi sebenarnya tak demikian. Sang pelanggan merupakan Google Assistant yang sekarang ini mengaplikasikan teknologi AI yang disebut Duplex, sementara sang pegawai salon ialah manusia sungguhan.

Tanggapan Assistant terasa amat “manusia,” memperlihatkan alangkah teknologi AI Google makin mendekati batas-batas yang dahulu seolah muskil ditempuh oleh teknologi. Saat sang pegawai salon menginginkan Duplex untuk menunggu sebagian ketika dia memeriksa jadwal yang kosong, contohnya, Duplex merespon secara luwes dengan sahutan “Mm-hmm” layaknya tanggapan manusia pada biasanya Sontak, tawa audiens bahkan memenuhi venue.

Dengan Duplex, orang pada masa ini bisa mengerjakan pengorderan meja pada resto atau kafe yang belum mempunyai teknologi komputerisasi yang memadai untuk orderan online, atau menjawab telepon masuk saat rapat sedang berlangsung sembari mencatatkan pesan yang berkeinginan diperkenalkan oleh sang penelpon, layaknya mempunyai pembantu pribadi.

Pada November ini, sejumlah orang di Negeri Paman Sam yang mempunyai smartphone Pixel buatan Google telah mulai mencicipi bagaimana teknologi ini berprofesi. Indonesia, sayangnya, masih belum bisa menikmati kecanggihan teknologi Google tersebut itu, mengingat Pixel sendiri tak dipasarkan legal di negara ini.

Melainkan, AI sendiri sebenarnya sudah mulai merasuk di kehidupan masyarakat Indonesia, entah disadari maupun tidak.


Teknologi AI di Indonesia jikalau diperhatikan dengan jeli tak berada jauh dari genggaman tangan dan mempunyai pertumbuhan yang cukup menjanjikan, walaupun belum menempuh tahapan seperti di AS maupun Cina. Dia ini diakui oleh CEO Kata.ai Irzan Raditya.

Dia menyatakan bahwa perkembangan dan adopsi teknologi AI di Indonesia belum sepesat yang terjadi di kedua negara  tersebut, utamanya Cina.

“Cina itu masif sekali pertumbuhannya, apalagi jika kita lihat gerak-geriknya Alibaba, Tencent, Baidu,” terang Irzan, Rabu (5/11). Sebagai catatan, Kata.ai yaitu start-up teknologi AI yang konsentrasi di bidang chatbot dan alami language processing.

Dia memberikan teladan, penerapan AI di Cina telah berada pada tahap di mana teknologi telah terintegrasi di masyarakat. Saat berkeinginan berbelanja di gerai resto cepat saji, dia melanjutkan, masyarakat Cina telah tak perlu mengeluarkan smartphone untuk melaksanakan transaksi sebab resto/kafe tersebut telah mengenal identitas dari calon pembeli serta saldo yang dimiliki mereka cuma dengan |memakai pemindaian kamera.

“Penggunaan kita kini mungkin lagi heboh dengan QR Code ya dengan e-payment ... di Cina itu telah 8 tahun lalu,” ucap Irzan. “Pemerintah Cina sungguh-sungguh mendukung, mem-push, pertumbuhan AI.”

Di Indonesia, AI memang belum mempunyai kompleksitas seperti di Cina. Salah satu penggunaan dari teknologi ini, melainkan demikian, telah dinikmati dalam format-format yang lebih simpel, salah satunya lewat teknologi chatbot yang mungkin kerap kali ditemui di aplikasi-aplikasi pesan instan seperti Line, Telegram maupun Whatsapp.

Chatbot ialah program komputer yang didesain untuk menanggapi percakapan dengan pengguna manusia dalam sebuah platform berbentuk teks maupun audio.

Sales Director Line Indonesia Anchali Kardia mengatakan bahwa perkembangan AI di Indonesia sebenarnya cukup menjanjikan. Informasi chatbot dalam Line di Indonesia sendiri, lanjutnya, cukup populer di kalangan milenial sebab karakteristik mereka yang lebih suka percakapan dalam format teks.

“Kita pertambahannya year-on-year jumlah bot di Indonesia itu 25 persen, untuk di Line-nya sendiri, di Line ecosystem,” ucap Kardia.

Apa yang dikatakan oleh Kardia berkaitan|berhubungan perkembangan AI searah dengan hasil survei mengenai prospek AI di Asia Tenggara oleh SAS dan IDC Asia/Pacific pada 2018 ini. Survei tahunan bertajuk “IDC Asia/Pacific Enterprise Cognitive/AI Kemampuan” yang dirilis Juli 2018 tersebut menemukan bahwa adopsi AI di Asia Tenggara memang tengah menanjak dengan Indonesia memimpin popularitas positif.

Baca Juga : Karya Anak Bangsa, Yohanes Kurnia Wujudkan Robot Pintar Indonesia

Pada 2018, survei ini melibatkan sempurna 502 eksekutif dan kepala lini bisnis IT di Asia Pasifik (selain Jepang), termasuk 146 responden dari Asia Tenggara (Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand).
Tingkat adopsi AI di Asia Tenggara pada 2018 ini menempuh tingkat 14 persen, meningkat dari 8 persen di tahun sebelumnya, membuktikan bahwa perusahaan mulai mengikuti keadaan dengan AI dan menanamkan sejumlah format teknologi tersebut ke dalam operasional mereka.

Berdasarkan AI untuk memberikan perusahaan-perusahaan tersebut pemahaman yang lebih menyeluruh dan lebih bagus menjadi alasan utama lebih dari separuh responden (52 persen) untuk mengadopsi teknologi itu.

Sebanyak 24,6 persen organisasi di Indonesia sudah mengadopsi AI. Thailand, sementara itu, berada di posisi kedua (17,1 persen), disusul oleh Singapura (9,9 persen) dan Malaysia (8,1 persen). Sedangkani Irzan, setidaknya ada lima industri di Indonesia yang telah mengadopsi AI, yaitu perbankan, telekomunikasi, healthcare, e-commerce, dan fast moving consumer goods (FMCG). Di bidang telekomunikasi contohnya, adopsi teknologi AI digunakan pada layanan customer service dan lainnya.

“Kami memperkirakan investasi di AI akan terus meningkat, sebab kian banyak organisasi mulai memahami manfaat dari menanamkan AI ke dalam bisnis mereka dan bagaimana data serta analisa|analitik  bisa menolong membongkar wawasan baru,” ucap Global Research Director, Big Data and Analytics and Cognitive/AI, IDC Asia/Pacific, Chwee Kan Chua dalam keterangan resminya.

Survei ini juga mempertegas pernyataan Irvan mengenai bagaimana pertumbuhan teknologi AI di Cina ditunjang oleh kepercayaan perusahaan-perusahaan di negeri tirai bambu itu bahwa AI merupakan masa depan. Survei ini menceritakan bahwa lebih dari 80 persen perusahaan di Cina dan Korea Selatan percaya bahwa AI akan menjadi komponen krusial dari berhasil dan tenaga| saing perusahaan di masa depan.

Halangan

Selain memimpin pertumbuhan adopsi di ASEAN, sayangnya, Indonesia juga mempunyai presentase paling tinggi (59 persen) berkaitan jumlah organisasi atau perusahaan yang tak mempunyai agenda untuk mengadopsi teknologi AI dalam lima tahun ke depan, masih dari survei yang sama.

Ini membuktikan bahwa masih terdapat bisnis yang bersifat tradisional yang masih ragu untuk melaksanakan lompatan pada operasional bisnis mereka.

Peter Sugiapranata, Country Manager SAS Indonesia, menceritakan tantangan utama yang perlu diselesaikan dalam sebagian tahun ke depan berkaitan perkembangan teknologi serta adopsi AI di Indonesia ialah bagaimana Indonesia bisa menempatkan AI sebagai pembeda dalam melakukan bisnis.

Meskipun itu, dia menceritakan bahwa jalan masuk kepada bakat sumber tenaga manusia juga bisa menjadi hambatan lainnya.

Irzan mengatakan bahwa kesediaan industri atau pemain-pemain bisnis lama untuk membuka jalan masuk data mereka dan untuk bertransformasi komputerisasi mengontrol peranan penting kepada pertumbuhan teknologi AI di Indonesia.

“Tanpa ada data algaritma bot tak akan jalan,” ucapnya.

Pemerintah Indonesia, lanjutnya, sedikit banyak juga bisa menolong pertumbuhan adopsi AI di Indonesia ini dalam hal peraturan hukum , utamanya dengan mempersiapkan roadmap untuk industri AI seperti yang sudah dilaksanakan  pada industry e-commerce.

"Indonesia ialah pasar yang total untuk AI untuk berkembang. Dasar dari AI dan analitik berlokasi pada ketersediaan data dan Indonesia mempunyai volume serta skala [data] yang ideal untuk menjustifikasi investasi pada AI,” kata Sugiapranata.


No comments:

Post a Comment

Post Top Ad